SPIRIT KURBAN MERAWAT ALAM DAN KEMANUSIAAN

SPIRIT KURBAN MERAWAT ALAM DAN KEMANUSIAAN
‎Oleh: Mappasessu SH MH - www.mappasessu.info


​Khotbah Pertama

‎​Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

‎​Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Walillahil hamd.

‎​Jamaah shalat Idul Adha yang dirahmati Allah,

‎​Hari ini, gema takbir membubung tinggi dari pelataran Masjid Istiqlal hingga ke pelosok-pelosok nusantara. Kita berkumpul untuk merayakan Idul Adha 1447 Hijriah, sebuah momentum besar untuk merefleksikan kembali makna "Spirit Kurban Merawat Alam dan Kemanusiaan."

‎​Jika kita mendekati ibadah kurban dengan pendekatan Teologi Materialisasi Wahyu, kita akan menyadari bahwa wahyu Allah tidak diturunkan hanya untuk berhenti menjadi hafalan, ritus tanpa jiwa, atau teks mati. Wahyu harus di materialisasikan, diwujudkan dalam bentuk tindakan nyata yang mengubah realitas sosial dan ekologis di sekitar kita.

‎​Kurban (Qurban), secara bahasa berarti "mendekatkan diri." Menumpahkan darah hewan kurban adalah simbol penyembelihan sifat-sifat kebinatangan dalam diri manusia: ketamakan, egoisme, dan nafsu eksploitatif. Allah Swt. menegaskan dalam Al-Qur'an:

‎​"Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan darimulah yang dapat mencapainya..." (QS. Al-Hajj: 37)



‎​Takwa yang sejati adalah takwa yang mewujud pada keselamatan alam (rahmatan lil 'alamin) dan keadilan bagi sesama manusia.

‎​Jamaah yang dimuliakan Allah,

‎​Ketika kita bicara tentang kurban dan kemanusiaan hari ini, pandangan kita tidak boleh menutup mata dari potret saudara-saudara kita di Tanah Papua. Papua, sebuah wilayah yang diberkahi Allah dengan kekayaan alam yang luar biasa, saat ini tengah menghadapi luka ekologis dan kemanusiaan yang mendalam.

‎​Melalui kacamata ekoteologi (teologi lingkungan), bumi adalah masjid tempat kita bersujud, dan merusaknya adalah bentuk penodaan terhadap rumah ibadah. Namun, apa yang terjadi atas nama pembangunan? Kita menyaksikan terjadinya Kolonialisasi Modern yang digerakkan oleh watak Kapitalisme Negara.

‎​Ketika negara bertindak sebagai agen kapitalis [mempermudah korporasi besar membabat hutan adat, mengeruk gunung-gunung demi emas dan tembaga, serta mengubah hutan sagu menjadi perkebunan monokultur skala besar] mereka sedang melakukan penyembelihan atas ruang hidup manusia.

‎​Ini adalah bentuk "kurban" yang salah sasaran. Bukan sifat egois manusia yang dikorbankan, melainkan alam Papua dan masyarakat adatnya yang dikorbankan demi syahwat pertumbuhan ekonomi segelintir elite. Ketika hutan Papua hilang, runtuh pula sendi-sendi kemanusiaan di sana. Masyarakat kehilangan pangan lokal, kehilangan identitas budaya, dan terasing di tanah lahirnya sendiri. Sifat eksploitatif kapitalistik inilah "berhala modern" yang wajib kita sembelih hari ini!

‎​Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil hamd.

‎​Sebagai bangsa yang besar, Indonesia tidak akan pernah mencapai keberkahan yang hakiki selama ada bagian dari tubuh bangsa ini yang menjerit kesakitan. Spirit kurban menuntut kita untuk solider. Kita tidak boleh kenyang dengan daging kurban di Jakarta, sementara saudara kita di Papua kelaparan karena hutannya dirampas.

‎​Oleh karena itu, khotbah dari mimbar ini menawarkan solusi konkrit bagi Bangsa Indonesia untuk mematerialisasikan wahyu kurban dalam kebijakan bernegara dan bermasyarakat:

‎​1. Transformasi Kebijakan: Dari Eksploitasi Menuju "Kurban Kebijakan"

‎Pemerintah harus berani melakukan "kurban" dalam bentuk menahan ego pertumbuhan ekonomi jangka pendek. Stop model kapitalisme negara yang menindas. Materialisasikan wahyu keadilan dengan menerapkan moratorium (penghentian sementara) izin industri ekstraktif skala besar di Papua, serta mengembalikan hak kelola hutan kepada masyarakat adat melalui skema Green Economy (Ekonomi Hijau) yang menghormati alam.

‎​2. Rekonsiliasi Kemanusiaan dan Ekologis

‎Menghentikan pendekatan keamanan yang represif di Papua dan menggantinya dengan pendekatan dialog kemanusiaan. Uang hasil kekayaan alam Papua harus dimaterialisasikan untuk memulihkan kerusakan lingkungan (reboisasi hutan adat) dan membangun kedaulatan pangan berbasis kearifan lokal (sagu dan umbi-umbian), bukan memaksakan pangan luar yang merusak ekosistem setempat.

‎​3. Gerakan "Kurban Ekologis" Jamaah (Eco-Qurban)

‎Bagi kita sebagai masyarakat, mari ubah cara kita berkurban. Jangan lagi menggunakan kantong plastik sekali pakai saat membagikan daging kurban yang mengotori bumi. Mulailah menginisiasi "Kurban Ramah Lingkungan." Lebih dari itu, mari alokasikan sebagian dana sosial Islam (Zakat, Infaq, Sedekah, dan Kurban) untuk program-program konservasi lingkungan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat di wilayah-wilayah yang tertindas secara ekologis, termasuk di Papua.

‎​Jamaah sekalian, [bersambung]

Comments

Popular posts from this blog

Mei Day di Tengah Bara Perang Global

Konstitusi Kultural Masyarakat Bugis

Mappasessu, SH, MH

Kantor Hukum Mappasessu SH MH & Rekan

Selamat Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2 Mei 2026.

Peristiwa Penyempurnaan Risalah

Siapa yang Lebih Kuat dalam Konflik Pertanahan