RUMAH DARI KERTAS, KEBUN DARI HATI
Sebuah CERPEN Oleh: Mappasessu
Kala Buku Tabrak Tanaman
Mappasessu tidak pernah menyangka bahwa cinta pertamanya akan dimulai dari sebuah buku hukum yang nyaris jatuh ke semangka percobaan.
Itu sore di bulan September, saat hujan turun dengan cara khas Makassar: tiba-tiba, deras, dan tanpa permisi. Perpustakaan pusat Universitas Hasanuddin ramai oleh mahasiswa yang mencari perlindungan sekaligus literatur. Sessu [begitu teman-temannya memanggil] sedang berjalan cepat di antara rak-rak bagian selatan, tempat koleksi hukum tata negara disimpan. Tangannya memegang tiga buku tebal: Politik Hukum karya Bagir Manan, Hukum dan Kemerdekaan, dan satu jurnal tentang kewenangan mahkamah konstitusi.
Ia tidak melihat ada sesosok mahasiswa yang sedang jongkok di ujung lorong, tepat di dekat jendela yang bocor. Mahasiswa itu, seorang perempuan dengan jilbab merah marun dan ransel cokelat lusuh, sedang asyik mencatat sesuatu di buku tulis bergaris sambil sesekali menengok ke arah pot kecil berisi tanaman yang ia letakkan di ambang jendela.
"Aduh!"
Buku di tangan Sessu tergelincir. Bukan karena ia ceroboh, tapi karena kakinya tersandung kabel charger laptop yang melintang. Tiga buku itu terbang sebentar, cukup lama untuk membuat sang pemilik pot semangka mini itu menengadah dengan mata terbeliak.
Buk, buk, buk.
Dua buku jatuh ke lantai. Satu buku, yang paling tebal, yaitu Politik Hukum, mendarat persis di atas pot tanaman. Tanah hitam berhamburan ke lantai keramik. Daun kecil semangka yang baru tumbuh dua helai itu patah.
"Maaf-m-maaf, saya tidak—"
"Sssttt!" perempuan itu mendesis, bukan karena marah, tapi karena pustakawan senior, Ibu Ros, sedang memandang dari balik kacamatanya di meja sirkulasi. "Turunkan suaramu, Mas."
Sessu terdiam. Ini pertama kalinya ia melihat seseorang lebih peduli pada aturan perpustakaan daripada pada tanaman yang baru saja hancur di depannya.
Dengan sigap, ia membungkuk, mengumpulkan buku-bukunya, lalu berusaha menyendok tanah yang berserakan menggunakan punggung buku catatannya. Kikuk. Sangat kikuk untuk seorang mahasiswa hukum yang biasa berdebat di muka umum.
"Ini," katanya akhirnya, setengah berbisik. "Saya ganti pot dan tanamannya. Besok saya cari yang sama."
Perempuan itu menggeleng pelan. "Tidak usah. Itu hanya percobaan kecil untuk skripsi saya. Toh, mungkin memang bukan takdirnya semangka itu hidup." Ia tersenyum kecil, senyum yang anehnya membuat Sessu merasa lebih bersalah daripada jika ia dimarahi habis-habisan.
"Nama saya Sitti Athirah," lanjutnya sambil berdiri dan merapikan jilbabnya. "Fakultas Pertanian. Dan sepertinya—" ia menunjuk buku-buku di tangan Sessu, "Anda dari Fakultas Hukum, ya? Karena tidak ada orang waras yang membaca tiga buku hukum sekaligus di sore hari kalau bukan anak hukum."
Sessu hampir tertawa. "Benar. Mappasessu. Panggil Sessu. Maaf sekali lagi soal tanamanmu, Athirah."
"Kata 'maaf' tidak mengembalikan daun semangka, Sessu. Tapi—" Athirah mengambil pot pecah dan sisa tanah, "—kamu bisa traktir saya es pisang ijo di kantin belakang sebagai gantinya."
Dan seperti itulah. Sebuah buku hukum menabrak pot semangka. Dan seorang mahasiswa hukum jatuh cinta pada seorang mahasiswi pertanian yang berbicara tentang tanaman rusak seolah ia sedang membahas filsafat kehidupan.
---
Sore itu juga mereka duduk di kantin Fakultas Pertanian, tempat yang jarang sekali Sessu jamahi karena selama dua tahun kuliah ia lebih sering di fakultasnya atau di perpustakaan pusat. Meja kayu panjang dengan taplak plastik bermotif bunga itu sederhana. Di sekelilingnya, beberapa mahasiswa pertanian duduk sambil memegang bibit atau alat ukur tanah.
Es pisang ijo yang Athirah pesan untuk mereka berdua disajikan dalam mangkuk plastik. Kuah santan merah muda itu mengapung bersama es serut dan potongan pisang yang dibalut adonan hijau pandan.
"Kamu serius menanam semangka di dalam pot di perpustakaan?" tanya Sessu sambil menyuap esnya.
"Bukan sembarangan," Athirah menjelaskan dengan mata berbinar. "Itu percobaan kecil untuk melihat pertumbuhan semangka tanpa sinar matahari langsung, hanya mengandalkan cahaya lampu perpustakaan dan jendela yang bocor. Hasilnya sudah saya duga: gagal. Tapi setidaknya saya tahu seberapa lama ia bisa bertahan."
"Kedengarannya... menyakitkan. Bagi tanamannya."
"Penelitian memang menyakitkan, Sessu. Itu artinya kamu jujur pada data." Athirah memandangnya sebentar. "Kamu sendiri? Buku-buku hukum itu untuk apa?"
Sessu menghela napas. Ia sebenarnya tidak perlu menjelaskan pada orang asing. Tapi ada sesuatu di cara Athirah mendengarkan, seperti ia benar-benar peduli, bukan hanya basa-basi.
"Saya sedang menyusun draf artikel jurnal tentang kewenangan mahkamah konstitusi dalam sengketa pilkada. Terus terang, itu untuk lomba menulis ilmiah nasional. Tapi juga—" ia berhenti, "—saya ingin membuktikan bahwa mahasiswa dari universitas di luar Jawa juga bisa bersaing."
Athirah mengangguk. "Ambisi yang bagus. Tapi jangan sampai semangka-semangkamu yang tumbuh di tempat gelap itu mati karena kamu terlalu sibuk membuktikan sesuatu."
Sessu menatapnya. Untuk pertama kalinya ia merasa ditantang, bukan oleh dosen atau lawan debat, tapi oleh seorang perempuan yang sedang memakan es pisang ijo dengan sendok plastik yang terlalu kecil.
"Apa semangkamu?" tanya Sessu agak penasaran.
"Itu rahasia."
"Hukum tidak mengenal rahasia di muka umum."
Athirah tertawa kecil. Suaranya renyah, seperti dedaunan kering tertiup angin. "Hukum mengatur, Sessu. Tapi ia tidak bisa memaksa seseorang untuk bercerita tentang mimpinya jika ia belum siap."
Setelah itu, mereka bertukar nomor telepon. Bukan dengan alasan romantis, setidaknya tidak secara terang-terangan. Athirah bilang, "Untuk berjaga-jaga kalau semangka berikutnya kamu tabrak lagi." Dan Sessu bilang, "Untuk berjaga-jaga kalau saya butuh konsultan pertanian untuk kasus lingkungan nanti."
Mereka berdua berbohong, tentu saja. Tapi bohong yang manis, bohong yang membuat Sessu tersenyum sepanjang malam saat ia mengetik draf artikelnya, dan membuat Athirah memilih baju lebih lama dari biasanya keesokan paginya.
---
Di Antara Pasal dan Pupuk Organik
Tiga bulan berlalu. Hubungan mereka tidak langsung menjadi pacaran, setidaknya tidak dengan status yang resmi. Ada semacam tarian lambat di antara dua fakultas yang terpisah jarak cukup jauh di kampus Unhas.
Mappasessu sibuk. Ia mulai dipercaya menjadi asisten dosen untuk mata kuliah Hukum Acara Perdata. Jadwalnya padat: mengajar, membantu penelitian dosen senior, dan tetap mengejar artikel jurnalnya. Ia juga aktif di tim debat fakultas. Namanya mulai dikenal di kalangan mahasiswa hukum sebagai sosok yang cerdas, sedikit kaku, dan sangat ambisius.
Sementara Athirah [Sessu pelan-pelan belajar] adalah kebalikannya. Ia tidak suka keramaian. Ia lebih suka menghabiskan waktu di laboratorium tanah atau di kebun percobaan fakultas. Teman-temannya bilang Athirah itu pendiam, bahkan cenderung dingin. Tapi Sessu tahu versi lain: perempuan yang bisa tersenyum lebar saat melihat tunas padi tumbuh, yang rela begadang hanya untuk mengamati pertumbuhan akar, dan yang diam-diam jago bercerita tentang petani-petani di kampungnya di Bulukumba.
Mereka bertemu di sela-sela waktu yang sempit. Selepas Ashar, biasanya. Atau saat Sessu menunggu dosen pembimbingnya dan Athirah baru selesai praktikum. Tempat favorit mereka bukan kafe atau mal—tapi koridor belakang Masjid Kampus Unhas. Di sana ada bangku panjang yang teduh, dikelilingi pohon trembesi dan suara adzan magrib yang sayup-sayup.
"Kamu tahu," kata Athirau suatu sore sambil membuka bekal dari rumah, nasi dan ayam goreng yang sudah dingin, "saya mulai heran kenapa kamu mau terus bertemu dengan saya. Pacar-pacar mahasiswa hukum biasanya suka diajak ke tempat yang lebih... wah."
Sessu yang sedang mengoreksi naskah artikelnya mengangkat kepala. "Pacar? Kita pacaran?"
Athirah tersedak nasi. "Bukan maksud saya—"
"Saya hanya bercanda." Sessu tersenyum. Ini adalah senyum yang jarang ia tunjukkan. "Tapi serius, Athirah. Saya menikmati pertemuan-pertemuan seperti ini. Tidak ada tekanan. Kamu tidak pernah protes kalau saya bawa pekerjaan."
"Karena saya juga bawa pekerjaan." Athirah menunjukkan buku catatannya yang penuh dengan tabel dan angka-angka kesuburan tanah. "Lihat ini? Saya sedang menghitung efektivitas pupuk organik dari kotoran kelinci dibanding kotoran sapi. Kalau ada yang melihat, mereka akan bilang kita pasangan paling tidak romantis se-Unhas."
"Menurut saya romantis," kata Sessu. "Kita berdua sedang membangun masa depan dengan cara kita sendiri. Kamu dengan tanah dan tanaman. Saya dengan pasal dan paragraf."
Athirah terdiam. Lalu ia berkata lirih, "Kamu yakin? Saya tidak pernah bisa menemani kamu ke acara debat atau ke seminar-seminar hukum yang mewah itu. Baju saya hanya ini-itu saja. Kadang saya bahkan tidak punya uang untuk ganti jilbab yang baru."
Sessu meletakkan bolpoinnya. Ia memutar tubuh menghadap Athirah.
"Dengar," katanya dengan suara yang tiba-tiba serius, "saya tidak membutuhkan perempuan yang berdandan demi saya. Saya butuh seseorang yang tidak akan pergi saat saya sibuk. Yang tidak akan marah saat saya lupa membalas pesan karena sedang mengedit artikel. Yang—" ia mengambil napas, "—yang percaya bahwa semua kerja keras ini bukan karena saya sombong, tapi karena saya ingin kelak, saat kita menikah, saya bisa memberikan hidup yang layak."
Udara di antara mereka berubah.
Athirah menatap Sessu lekat-lekat. Matanya sedikit basah, tapi ia menahan.
"Kamu sudah lamar saya, Sessu? Belum lulus kuliah saja sudah berani bicara soal menikah?"
"Saya orang hukum. Saya selalu berpikir lima langkah ke depan."
Athirah tertawa. Kali ini tawanya terdengar sedikit serak, mungkin karena terharu. "Baiklah, Pak Calon Pengacara. Tapi ingat: sebelum menikah, saya harus lulus dulu. Dan semangka percobaan saya harus tumbuh sempurna tanpa cahaya matahari.
"Saya akan bantu menjaga semangka itu."
"Kamu akan membunuhnya lagi."
"Kali ini tidak. Saya sudah belajar dari kesalahan."
---
Kenangan itu terasa begitu jelas bahkan dua tahun kemudian, saat Sessu duduk di ruang kerjanya yang baru—kantor hukum kecil di Jalan Boulevard, tidak jauh dari kampus. Meja kayu jati, rak berisi puluhan buku hukum dan jurnal internasional, serta satu pot kecil tanaman semangka di sudut ruangan.
Tanaman itu hadiah dari Athirah saat mereka resmi bertunangan. Di potnya tertulis: "Untuk Sessu, yang pernah membunuh semangkaku tapi menghidupkan kembali hatiku."
Ia tersenyum membaca tulisan itu. Di sampingnya, ponsel bergetar. Pesan dari Athirah:
"Selesai revisi skripsi. Besok sidang. Doakan aku."
Sessu membalas cepat: "Kamu bisa. Kamu perempuan paling kuat yang saya kenal, bahkan lebih kuat dari akar pohon beringin."
Lalu ia melanjutkan mengetik. Bukan artikel jurnal kali ini, tapi naskah buku pertamanya. Tentang hukum agraria dan perjuangan petani kecil. Ia menyelipkan nama Athirah di kata pengantarnya.
---
Malam Sebelum Sidang Skripsinya
Malam itu, Athirah tidak bisa tidur.
Ia berbaring di kamar kosnya yang sempit di belakang kampus. Dinding bercat putih kusam, satu kipas angin yang bunyinya seperti pesawat mau lepas landas, dan tumpukan jurnal pertanian di lantai. Handphone-nya berdering. Sessu.
"Masih bangun?" suara Sessu terdengar letih, tapi hangat.
"Masih. Tidak bisa tidur. Sidang besok jam 8."
"Kamu sudah siap?"
"Skripsi sudah. Mental... belum. Saya takut ditanya hal-hal di luar materi. Saya takut salah menjawab. Saya takut—"
"Berhenti." Potong Sessu lembut. "Athirah, dengarkan saya. Dari semua orang yang saya kenal di kampus ini, kamu adalah yang paling tahu tentang penelitianmu. Kamu tidur di laboratorium demi tanaman. Kamu rela membeli pupuk pakai uang saku terakhir. Tidak ada yang lebih menguasai topik itu selain kamu."
Athirah memejamkan mata. Air matanya perlahan menetes ke bantal.
"Tapi bagaimana jika—"
"Tidak ada jika. Hukum sebab-akibat: kamu bekerja keras, maka hasilnya baik. Itu pasal pertama dalam hidup."
Athirah tersenyum meski Sessu tidak melihatnya. "Kamu aneh. Menghibur orang pakai bahasa hukum."
"Karena saya hanya tahu itu. Tapi saya juga tahu satu hal."
"Apa?"
"Aku sayang kamu, Athirah. Besok setelah sidang, mau lulus atau belum, aku akan jemput kamu. Kita makan es pisang ijo di tempat yang sama seperti pertama kali."
Athirah diam beberapa lama. Lalu ia berbisik, "Aku sayang kamu juga, Sessu. Terima kasih sudah menjadi rumah untuk pulang."
---
Besoknya, Athirah lulus dengan nilai A. Pengujinya memuji penelitiannya tentang efektivitas pupuk organik pada tanaman padi di lahan kering. Dosen pembimbingnya menangis haru.
Sessu menepati janji. Ia datang dengan motor butut kesayangannya, membawa dua mangkuk es pisang ijo, dan pelukan yang lama.
Di pelukan itu, Athirah berbisik, "Sekarang giliran kamu. Selesaikan skripsimu. Saya yang akan menemani begadangmu."
Maka pergantian peran terjadi. Dua bulan setelah Athirah lulus, Sessu menyelesaikan skripsinya tentang kewenangan desa dalam mengelola sumber daya alam. Ia juga menyelesaikan artikel jurnal yang membuat namanya mulai dilirik dosen-dosen senior.
Mereka tidak pernah benar-benar pacaran dalam arti berpacaran secara terbuka. Tidak ada status di media sosial. Tidak ada foto berdua yang di-upload. Hanya ada janji yang dipegang teguh: kita akan sampai ke pelaminan setelah kita berdua berdiri di atas kaki sendiri.
Lamaran dan Pernikahan Sederhana
[Bersambung]

Comments
Post a Comment
Jika komentar tidak sempat di jawab, langsung Hubungi Hp. wa La Mappasessu 085242935945
untuk info dan atau pesanan barang